Program Studi Sastra Daerah Fakultas Sastra USU berdiri tahun 1979. Sejak tahun 1985 Jurusan Sastra Daerah telah dimekarkan menjadi dua program studi, yakni Program Studi Bahasa dan Sastra Batak dan Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu. Objek kajian Program Studi Bahasa dan Sastra Batak adalah bahasa, sastra, dan budaya semua sub etnik Batak seperti Batak Toba, Batak Angkola/Mandailing, Batak Simalungun, Batak Karo, dan Batak Pakpak/ Dairi, sedangkan objek kajian Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu adalah semua bahasa. sastra. dan budaya dialek Melayu yang ada di Sumatera Utara seperti Melayu Deli, Melayu Serdang, Melayu Langkat, dan Melayu Asahan.
Program Studi Sastra Daerah, baik Program Studi Bahasa dan Sastra Batak maupun Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu, memiliki tiga disiplin ilmu, yakni linguistik untuk kajian bahasa, ilmu sastra untuk kajian kesusastraan, dan budaya untuk kajian kebudayaan.
Program Studi Sastra Daerah bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang berkualifikasi sebagai berikut:
1. Menguasai dasar-dasar ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan metodologi tentang bahasa, sastra. dan budaya sehingga mampu mengenali, memahami, menghayati, menjelaskan, dan menyelesaikan masalah bahasa, sastra, budaya Batak/Melayu dengan menggunakan konsep-konsep ilmiah. terutama konsep-konsep ilmu bahasa, ilmu sastra, dan ilmu budaya yang berkaitan erat dengan bahasa dan sastra;
2. Mampu menguasai metode ilmiah untuk melakukan penelitian bahasa, sastra, dan budaya Batak/Melayu dalam rangka pembinaan, pelestarian, dan pemecahan masalah bahasa, sastra, dan budaya tersebut;
3. Mampu menerapkan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya kepada masyarakat untuk memelihara bahasa dan sastra Batak/Melayu dalam menunjang pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia;
4. Mampu memahami kebudayaan Batak/Melayu melalui bahasa dan sastranya; dan Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya secara ilmiah sesuai dengan kebutuhan serta tuntutan masyarakat dan bangsa Indonesia;
5. Lapangan pekerjaan yang memungkinkan bagi alumni adalah: wartawan, peneliti sosial-budaya, pemandu wisata, pekerja di biro perjalanan, pegawai hotel, guru bahasa Batak dan bahasa Melayu, pegawai negeri di bidang kesra, perpustakaan, museum, pariwisata, penerangan, dan bidang lain pada pemerintah daerah yang berhubungan dengan sosial-budaya.
Visi
Program Studi Sastra Daerah menjadi pusat kebudayaan Sumatera Utara: Program Studi Bahasa dan Sastra Batak menjadi pusat kebudayaan Batak; dan Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu menjadi pusat kebudayaan Melayu.
Misi
Menawarkan pengetahuan iImiah tentang bahasa, sastra, dan budaya Daerah Sumatera Utara yang berorientasi pada kompetensi dan penelitian.
Sastra kebijaksanaan Batak Toba :
1. Berkaitan dengan Penderitaan Manusia:
· Nunga bosur soala ni mangan
· Mahap soala ni minum
· Bosur ala ni sitaonon
· Mahap ala ni sidangolon
Arti harafiah dan leksikal:
Sudah kenyang bukan karena makan
Puas bukan karena minum
Kenyang karena penderitaan
Puas karena kesedihan/dukacita
Sedangkan arti dan makna terdalam:
Syair pantun ini mengungkapkan keluhan manusia atas penderitaan yang berkepanjangan yang menyebabkan keputusasaan. Penderitaan sering dianggap sebagai takdir. Takdir ditentukan oleh Debata Mulajadi Na Bolon (Allah orang Batak Toba) harus diterima dengan pasrah saja. Ada orang yang menyerah saja pada penderitaan dan menjadi apatis. Namun untuk sebagian orang takdir dilihat sebagai sarana pendidikan, yakni mendidik untuk tabah menghadapi segala cobaan hidup, menyingkirkan sifat sombong dan sekaligus menanamkan rasa patuh kepada orang
tua, raja, hula-hula (kerabat keluarga), nenek moyang dan Debata Mulajadi Na Bolon.
kerennn......
BalasHapusmantap ito tumburrr.....